Penjelmaan Perempuan

Hari ini hari kita perempuanku
Untuk perempuan
Aku bukan perempuan yang sudah dewasa 
Atau perempuan yang memiliki banyak kebisaan
Pula perempuan yang memahami banyak sekali pengalaman

Tapi untuku begini kira kira "bahwa perempuan merupaka  representasi Tuhan dan semesta yang paling nyata"

Jika setelah membaca kalimat itu kau sedikit heran begini kasih sedikit kutuliskan
Dalam kepalaku perempuan pengendali, pemilik kekuasaan
Dari sudut dan sisi manapun
Bukan, bukan seperti yang marx sabutkan kekuasaan dalam kamus beliau  kurasa lebih menjurus ke suatu bentuk penindasan. 

Namun dalam hal ini kekuasaan adalah hanyengkuyung "mengayomi" ayom ayem tentrem, seperti halnya suatu keseimbangan hidup dalam contoh, kaya tidak harus menjadi Elon Musk, cantik tidak harus persis sama dengan Lana Del Rey, cerdas pemberani tidak harus menjadi Augustina De Aragon atau Laksamana Keumalahayati namun seimbang dan selaras kurang lebih begitu kalau dalam filosofi jawa.

Kemudian yang paling mendekati terhadap hal itu adalah penjelmaan perempuan sebagai "ibu". 

Ibuku bilang begini "nduk kamu boleh ambisi dengan pendidika, boleh berlari mengejar citamu, tapi ingat kamu itu perempuan, yang suatu hari jadi ibu seperti ibumu, menjadi ibu itu tidak mudah karena tidak ada sekolahnya tapi harus bisa segalanya!"

Pada saat itu aku tidak bilang apapun tidak menanggapi apapun hanya "iyaa". 
Karena untukku apa yang diucap perempuan apalagi dalam jelmaan ibu kalimatnya titis atau "sabda pandhita ratu"

Belakangan aku mengerti mengapa beliau begitu, kupikir iya juga ya
Menjadi ibu adalah sebuah pengabdian atau bisa disebut ibadah
Perempuan dalam penjelmaan gadis bisa memilih untuk menikah atau menolak lelaki yang meminangnya itu hak dirinya secara utuh dengan segala pertimbangan

Tapi seorang anak tidak bisa memilih ia lahir dan dilahir kan dari rahim dan trah keturunan siapa
Maka, suatu hari bila aku belum siap kemudian memaksa siap hanya untuk mendapat kehormatan sebagai "ibu" 
Maka aku tidak bisa menyalahkan anakku.

Bahkan aku berdosa kepada anak kecil itu, berdosa kepada darah dagingku, mendzolimi kepercayaan Tuhan kepadaku.
Bila aku tidak bisa mendidik dan memberikan pendidikan yang layak
Bila aku tidak bisa menjamin kesehatan lahir batin putra putriku dengan sebagus mungkin
Bila aku tidak bisa memastikan aqidah nya sesuai di jalan Rabbku
Bila aku tidak bisa mengontrol egoku terhadap putra putriku, terhadap imam shalat dan imam keluargaku. 

Bila aku tidak bisa menjadi penyeimbang, pengayom pemberi kedamaian bagi suami dan putra putriku
Mejadi perempuan dalam penjelmaan "ibu" harus besar welas asihnya, tegas dan cerdas.

Dan pada hari ini welas asih kian hari kian dikesampingkan sayang sekali.

Maka dari itu, perempuanku tidak ada tujuan apapu  sebenarnya masih masin dari kita untuk sesuai dengan apa yang Rabb kita Ridhoi. 

Tujuan hidup adalah Hompimpa!
Sedang kita hari ini adalah dalam fase alaium gambreng

Banyak warna yang Tuhan sediakan, banyak jenis kanvas yang diserahkan. Lalu terserah kita mau memilih jenis kanvas memilih warna apa yang kita mau, jika memilih hitam putih maka harus tau resikonya bawa lukisanmu tidak cerah ceria. Dan sebaliknya jika terlalu banyak warna maka riuh ramai pemilihan warna yang kontras itu sudah menjadi resikonya.


Selamat hari perempuan
Selamatkan dirimu dari kebodohan dan kesempitan berfikir. 

Lavyu sayangku🖤🌼

Komentar

Postingan Populer