Kilang Harkat

Ternyata tanpa kita sadari satu sama lain. Kita telah saling meletakan cita diantara dua tubuh yang tak berjalan beriringan, namun menggiring ruh untuk melulu di khidmadkan.
Hingga masing masing kita menjadi episentrum dan kilang harkat serta resisteni utama satu sama lain.



Akibatnya adalah ketika dipaksa jauh atau diputuskannya sebuah koneksi tanpa prefiks yang matang atau kesiapan yang benar benar matang secara holistik. Maka tidak butuh waktu lama antara keduanya untuk jatuh luruh.
Meski tidak adanya koneksi lain yang terganggu atau bahkan beberapa koneksi lain ditingkatkan dengan kapasistas yg lebih tinggi dari sebelumnya sesungguhnya itu hal tersebut tidak mampu mempengaruhi apapun. Karena inti poros tetap poros primer tidak terganti.

Tidak heran ketika kita pernah menjadi suatu individu yang tidak mengenali diri kita sendiri, tidak memiliki kestabilan dengan semests, tidak memiliki kecakapan atau daya pikir yang sama dengan sebelumnya bahkan prosentase untuk mengalami degradasi lebih besar dah bahkan hal itu yang terjadi.

Makanya entah diakui atau tidak bahkan diterima atau ditolak sekalipun, kau tetap semestaku yang dikiaskan hidup dan menghidupiku dalam sekup yang lebih kecil perlu diketahui pula bahwa Tuhan menciptakan agama sebagai sebuah batas, penyelamat daei kehancuran di dunia ini. Lantas jika kau semestaku kemudian kita berdiri berdikari secara kokoh menguatkan satu sama lain tanpa kecuali apakah masih membutuhkan agama dalam bahasa kasih?

Kuberi tahu satu hal yang paling mendasar sebagaimanapun kau debat tentang kasih dan cinta. Yang paling benar tetap Sang Maha Rahman tidak pernah menjatuhi hukum kasih dan cinta masing masing memiliki agama
Ia telanjang sayang, bening penuh kemurnian.

Komentar

Postingan Populer